Satu demi satu pergi, baik yang bernyawa maupun tak bernyawa.
Baik yang memegang prinsip simbiosis mutualisme maupun yang dengan segenap hati menawarkan ketulusan.
Takdir atau kelalaian dalam melangkah?
Anggap saya gila, seperti apa yang mereka tertawakan tentang saya.
Saya merasa kecil, bahkan lebih kecil dari partikel debu.
We're all stardust?
Entah saya harus meng-iya-kan prosa itu atau tidak.
Gairah, kepercayaan diri, senyum bahagia, saya hampir lupa rasanya.
Ingin sekali saya pergi, jauh, tinggalkan otak dan terutama hati saya.
Saya fakir peluk!
Saya fakir dukungan!
Katanya, monster di kepala saya ini hanya bisa lenyap jika saya lenyap
!
Tentang keluarga,
persetan dengan judgement, persetan dengan warisan.
Sejauh mungkin saya ingin melenyapkan dari kosa kata saya.
Tentang cinta-cinta yang dungu dan hantu-hantu,
hasrat yang diartikan sebagai kasih?
saya muak dengan hasrat, saya muak dengan afeksi semu, saya muak dengan mereka!
anggap saya konservatif tapi saya tidak bisa menalar percintaan semacam ini.
datang dan pergi. Sebagian saya rindukan, sebagian hanya membuat senyum simpul di bibir saya.
Tentang persahabatan,
satu kata : PERSETAN! mereka hanya ingin tahu, bukan benar-benar ingin mengulurkan tangan.
Tuhan,
apa salah saya? mengapa saya harus mengecap semua imbuan semacam ini.
Tuhan, ambil nyawa saya!
Saya hanya serpihan sampah, gagal dalam moral, gagal secara humanis, saya hanya petaka bagi orang sekitar saya terutama Ibu saya. Kehadiran saya pun secara harafiah sudah mutlak atas ketidak-sengajaan, dikutuk oleh leluhur, dikutuk oleh adat!
Banyak dosa yang saya lakukan, yang dulu amat saya nikmati.
Nista! Kotor! Binatang!
Haturan maaf saya kepada mereka pun tak dapat mengembalikan keadaan.
Saya berterimakasih kepada mereka yang telah menyisihkan ruang hidupnya untuk menemani saya.
Saya rindu mereka! Lebih dari sangat!